Rabu, 13 Maret 2013


Sang Pengulur
Karya Fuzail Qaris

          Krrrrriiiiiiiiiiinnnggggg, suara alarm yang membangunkanku. Ku ambil Handphone di sebelah kanan kepalaku dan kulihat jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Seperti biasa, Aku belum mau bangkit dari kasur yang beralaskan sprei Angry Birds ini karena perasaan ngantuk luar biasa yang masih Aku rasakan. Berguling ke kanan, berguling ke kiri, menghadap ke atas, menghadap ke bawah. Itulah yang Aku lakukan untuk membuat kelopak mata ini tidak tertutup lagi. Hingga pada akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 05.55.

          “Gawat!” kata hatiku yang tersentak karena kurang lebih satu jam lagi sudah masuk sekolah. Waktuku hanya 65 menit untuk bersiap-siap untuk pergi dan tiba di sekolah sebelum bel pertama berbunyi. Aku langsung bangkit dari Angry Birds ini, mematikan si Biru Miyako atau yang biasa disebut kipas angin, lalu menekan saklar lampu, dan meninggalkan ruangan berwarna merah dan biru muda tersebut. Setelah keluar dari kamar, Aku bergegas untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan shalat subuh. Jam sudah menunjukkan pukul 06.05 dan tiba-tiba, “Oh My God!”, Aku baru ingat kalau hari ini Aku menjadi petugas upacara. Jantung ini menjadi semakin cenat-cenut karena seragam putih-putihku belum disetrika. Ya udah, jadi Aku setrika dulu deh tu seragam.

          Waktupun sudah menunjukkan pukul 06.20. Sejenak Aku terdiam dan berpikir untuk menggunakan waktuku dengan se-efisien mungkin. Karena waktuku hanya 40 menit, berarti Aku harus mandi kurang dari 13 menit, memakai seragam 5 menit, membereskan buku 2 menit, memakai jam tangan 11 detik, memasukkan bekal ke dalam tas 17 detik, mengisi air minum 13 detik, tak lupa salim dan pamit kepada Ayah serta meminta uang jajan selama 2 menit 49 detik. 5 menit selanjutnya Aku gunakan untuk memakai helm, lalu mengeluarkan dan memanaskan Misohiru ( Mio Soul Hitam Biru ). Sisanya adalah waktu perjalananku sampai ke sekolah. Karena jarak dari rumahku ke sekolah kira-kira 4 km, jadi Aku harus melaju dengan kecepatan diatas 48 km/jam.

          Saat Misohiru sudah mulai panas, Aku langsung menungganginya dan segera pergi meniggalkan rumah. Setelah 39 detik meninggalkan rumah, Aku baru ingat bahwa aku lupa membawa Handphoneku. Karena waktu sudah mendesak dan ini diluar dari perhitungan waktuku, jadi Aku memutuskan untuk tidak kembali  mengambil Handphone dan kembali melanjutkan perjalananku. Di pertigaan jalan, Aku berhenti karena lampu lalu lintas sedang merah. Ternyata di sebelah kananku ada teman sekelasku yang terkenal paling “langsing” di kelas yaitu John Lyshitski. Seperti biasa, dia bersama Virah ( Vixion Merah) kesayangannya. Karena lampu lalu lintas sudah hijau, Aku hanya sempat menoleh dan tersenyum kepada John lalu kembali melanjutkan perjalanan. Agar tidak terlambat sampai sekolah, Misohiru berlari dengan kecepatan tinggi, sehingga banyak pengendara lain yang tersusul dan kamipun menjadi yang terdepan seperti kata iklan “Yamaha Semakin di Depan”.

          Saya dan Misohiru tiba di sekolah pukul 06.59 lewat 32 detik. Ini sesuai dengan waktu yang Saya perhitungkan di rumah tadi. Di sekolah, terlihat para siswa siswi sudah mulai keluar dari kelas dan berbaris di lapangan untuk melaksanakan upacara. Karena Saya adalah petugas upacara, tepatnya sebagai pengibar bendera, jadi Saya dan rekan sesama pengibar harus menyiapkan benderanya. Pengibar terdiri dari tiga orang, yaitu Alexander van Rutherfor, Elizabeth Watkins, dan Saya. Alex sebagai penarik dan pengikat tali, Elizabeth sebagai pembawa bendera, dan Saya sebagai pengikat bendera dan pengulur tali. Alhamdulillah kami sebagai petugas telah melaksanakan tugas kami dengan baik, walaupun masih belum sempurna, tetapi upacara telah berjalan dengan lancar.

          Oh iya, mungkin teman-teman atau pembaca ada yang bertanya, mengapa pada saat di rumah Saya hanya salim dan pamit kepada Ayah? Karena Ibu Saya sedang ada kerja keluar kota. Itu sebabnya Saya sedikit kesusahan untuk bangun pagi hehe.

          Setelah upacara selesai, kamipun masuk ke kelas masing-masing dan ada sedikit foto-foto bersama untuk para petugas bersama wali kelas. Setelah sesi berfoto selesai, proses belajar mengajar pun dimulai. Dan wali kelas kami, yaitu Bu Zema Al-Muhajirin atau yang biasa kami sapa Bunda Zem memberikan kami tugas individu untuk membuat cerpen berdasarkan pengalaman sendiri. Dan inilah cerpen yang Saya buat.

Keterangan Pemain :
1.     Alex sebagai Fuzail qaris
2.    John Lyshitski sebagai Salman
3.    Yoga sebagai Alexander van Rutherfor
4.    Elizabeth Watkins sebagai Putri
5.    Bu Zema Al-Muhajirin sebagai Bu Zeni Marhayati


Unsur Intrinsik Cerpen:
1.     Tema
Kehidupan Seorang Pelajar.
Hal ini terlihat jelas dalam setiap paragrafnya yang terdapat dalam hal-hal yang dilakukan oleh tokoh Aku. Mulai dari bangun tidur hingga menjadi petugas upacara di sekolah.
2.    Latar
Rumah
Terdapat dalam paragraf kedua kalimat keempat yang mengatakan “Setelah keluar dari kamar, Aku bergegas untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan shalat subuh”.
Jalan
Terdapat dalam paragraf keempat kalimat keempat yang mengatakan “Di pertigaan jalan, Aku berhenti karena lampu lalu lintas sedang merah”.
Sekolah
Terdapat dalam paragraf kelima kalimat pertama yang mengatakan “Saya dan Misohiru tiba di sekolah pukul 06.59 lewat 32 detik”.
3.    Alur
Alur yang dipakai oleh pengarang adalah alur maju. Karena di dalam cerita tidak terdapat kata atau kalimat yang menyatakan kejadian yang terjadi di masa lalu.
4.    Penokohan
Aku
Tokoh Aku memiliki sifat pemalas dan ramah. Hal ini diperjelas dalam paragraf pertama kalimat ketiga “Seperti biasa, Aku belum mau bangkit dari kasur yang beralaskan sprei Angry Birds ini karena perasaan ngantuk luar biasa yang masih Aku rasakan”. Dan paragraf keempat kalimat ketujuh “Karena lampu lalu lintas sudah hijau, Aku hanya sempat menoleh dan tersenyum kepada John lalu kembali melanjutkan perjalanan”.
Pengarang tidak menyatakan perilaku dan karakter tokoh lain. Pengarang hanya menyebutkan nama-namanya saja, seperti tokoh Ayah, John Lyshitski, Alexander van Ruthervor, Elizabeth Watkins, dan Bu Zema Al-Muhajirin.
5.    Sudut Pandang
Pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Karena tokoh utamanya adalah Aku. Tokoh lain hanya berperan sebagai tokoh pembantu.
6.    Gaya Bahasa
Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dimengerti serta terdapat majas personifikasi didalamnya.
Contoh: “mematikan si Biru Miyako”
 “Saat Misohiru sudah mulai panas, Aku langsung menungganginya”
7.    Amanat
Kalian sebagai pelajar janganlah menjadi orang yang malas dan suka mengulur waktu. Gunakanlah hari ini untuk mempersiapkan hal-hal yang akan dilakukan esok hari agar kalian tidak terburu-buru pada keesokan harinya.

Unsur Ekstrinsik:
1.     Unsur Agama
Terdapat pada hal yang dilakukan oleh tokoh Aku dan kata yang diucapkannya.
Contoh: “Aku bergegas untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan shalat subuh.”
           “Alhamdulillah kami sebagai petugas telah melaksanakan tugas kami dengan baik,”
2.    Unsur Sosial
Tokoh Aku mengikuti kegiatan sosial di sekolah.
Contoh: “Karena Saya adalah petugas upacara, tepatnya sebagai pengibar bendera, jadi Saya dan rekan sesama pengibar harus menyiapkan benderanya.”
3.    Unsur Budaya
Terdapat hal yang mencerminkan budaya anak Indonesia.
Contoh: “tak lupa salim dan pamit kepada Ayah”
4.    Latar Belakang Pengarang
Cerpen Sang Pengulur ini diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh pengarang. Pengarang memilih cerita ini karena berisi tentang perjuangan seorang pelajar yang menjadi petugas upacara. Cerita ini sederhana tetapi memiliki amanat yang bagus. Menurut pengarang cerita ini merupakan salah satu pengalaman terabaik yang dialaminya pada masa SMA. Dan juga cerita ini bisa dibaca oleh siapa saja, tidak ada batasan umur.
Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 komentar:

Posting Komentar